Senja di Perjalanan Pulang
Langit di barat mulai berpendar keemasan, merambat pelan ke ungu tua yang sendu. Awan-awan tipis terbakar cahaya terakhir, seperti sisa doa yang mengambang di udara. Jalanan dari Pakuwon menuju Lidah Kulon dipenuhi kendaraan yang bergerak dalam ritme sendiri—beberapa tergesa mengejar rumah, beberapa tenang seolah menikmati setiap detik yang berlalu.
Aku menyusuri aspal yang mulai disinari lampu-lampu jalan. Kerlipnya memantul di kaca jendela mobil, berkedip seperti bintang-bintang kecil yang tumbuh di bumi. Di kejauhan, suara azan berkumandang, menggetarkan udara dengan lembut. Suara yang sederhana, tapi cukup untuk menyalakan rindu—pada rumah, pada meja makan sederhana, pada senyum yang menunggu di ambang pintu.
Di jok samping, 3 biji bakwan dan segelas air mineral menjadi perantara sederhana antara lapar dan syukur. Seteguk pertama adalah oase, mengalir melewati tenggorokan yang kering, membawa kesejukan yang lebih dari sekadar air. Bakwan pertama terasa gurih bukan hanya karena rasanya, tapi karena janji yang dipenuhi—janji bahwa setiap penantian akan berujung pada pertemuan, setiap puasa akan berakhir dalam kenikmatan.
Lampu merah di perempatan memberikan jeda sejenak. Di sampingku, pengendara lain juga meraih bekalnya, membuka botol kecil, menyantap sesuatu dengan pelan. Sejenak, perbedaan di antara kami sirna. Tak ada hiruk-pikuk, tak ada kebisingan kota, hanya ada momen berbagi keheningan yang syahdu.
Langit makin gelap, dan aku semakin dekat dengan rumah. Di dalam dada, ada kehangatan yang tak berasal dari makanan, melainkan dari rasa syukur yang mengembang pelan-pelan. Malam telah datang, perjalanan hampir usai, dan di balik pintu yang sebentar lagi kubuka, ada kebersamaan yang siap menyambutku pulang.
