Sunyi Sang Pengembara: Menuju Pelukan Ilahi

Inilah kisah tentang Salik, sang manusia yang jiwanya tak pernah benar-benar menemukan kediaman di bumi. Ia telah mencicipi semua yang dijanjikan fana: berlari kencang mengejar cakrawala, tangan yang pernah penuh menggenggam rampasan dunia, dan hati yang pernah merasa memiliki.
Namun, di tengah segala raihan itu, sebuah ruang hampa tetap menganga. Ia adalah palung yang begitu dalam, jurang yang tak dapat diisi oleh emas, puji, atau cinta yang dicipta selain oleh Dia, Yang Maha Kekal.
Seorang Salik, sejatinya, adalah Tamu Agung Allah. Ia adalah sehelai jiwa yang samar-samar mendengar bisikan kuno, sebuah panggilan merdu yang menyerukan: "Pulang."
Maka dimulailah perjalanan itu.
Ia adalah perjalanan yang paling sunyi, sebab tiada lagi hiruk-pikuk dunia yang bisa menemani tapaknya. Ia adalah perjalanan yang paling panjang, melintasi bentangan nafsu dan ilusi yang seolah tanpa tepi. Dan, ia adalah perjalanan yang paling menyakitkan, karena setiap langkahnya adalah pencabutan ikatan dari segala yang dicintai di bumi.
Namun, di balik segenap getir dan sunyi, ia adalah perjalanan yang paling indah. Sebab ujungnya adalah lebur ke dalam Keindahan yang Sejati, perhentian terakhir di mana ruang hampa itu akhirnya tergenapkan, dan sang pengembara akhirnya menemukan Rumah dalam rengkuhan Kasih-Nya.

Popular posts from this blog

Makna, Tafsir, dan Relevansi Surat Adh-Dhuha

Senja di Perjalanan Pulang