Bismillah


Bismillah. Sebuah bisikan sebelum segalanya bermula. Bukan mantra, bukan janji, hanya sebuah langkah kecil yang menggema dalam ruang hampa. Seperti tinta pertama yang menyentuh kertas, seperti not awal yang menggetarkan senar biola.

Di antara celah waktu yang melengkung, Bismillah lahir tanpa usia. Ia menari dalam algoritma, berkedip di layar ponsel, terselip dalam kode biner yang merangkai realitas. Di dunia yang penuh suara, ia tetap sunyi, menyusup di sela jari-jari yang meraba tombol “Enter.”

Bismillah adalah titik koma dalam paragraf hidup. Sebuah jeda sebelum arus deras keputusan. Ia adalah bisikan bagi yang meragu, dentingan bagi yang berlari, bayangan bagi yang tersesat. Sebuah kalimat yang tak pernah menua, meski dunia terus berubah.

Lihatlah! Ada yang mengucapkannya di depan mikrofon, di panggung gemerlap, sebelum jutaan pasang mata. Ada pula yang berbisik pelan, di antara dengungan mesin dan bau oli, sebelum baut terakhir diputar.

Ia melampaui sekat, meretas batas. Bismillah tidak menunggu kepastian, ia adalah keberanian sebelum langkah pertama diambil. Sebuah pembuka tanpa janji akhir, sebuah doa yang melarut dalam absurditas dunia.

Dan di sini, di ujung layar yang dingin, kata itu masih berpendar. Bergetar dalam ruang digital, menolak terhapus. Sebab setiap awal selalu memiliki jejak. Sebab setiap kisah, meski patah dan berserakan, selalu dimulai dengan satu hal:

Bismillah.

Popular posts from this blog

Makna, Tafsir, dan Relevansi Surat Adh-Dhuha

Sunyi Sang Pengembara: Menuju Pelukan Ilahi

Senja di Perjalanan Pulang