Fragmentasi Takbir di Kota Beton
Di layar ponsel, pesan maaf berhamburan seperti spam. Kata-kata klise, copy-paste, dikirim ke kontak yang bahkan tak lagi diingat wajahnya. Emoji tangan menangkup, hati merah, doa digital. Sementara itu, di luar jendela kamar, langit masih menyisakan sisa malam, warna oranye pudar seperti filter Instagram yang gagal menemukan eksposur sempurna.
Di luar, jalanan masih lengang, tapi orang-orang mulai berduyun-duyun, wajah-wajah mengantuk yang baru saja lepas dari kantuk sahur dan sebulan penuh ritual tanpa nama. Mereka berjalan menuju lapangan-lapangan terbuka, masjid-masjid yang terlalu penuh, trotoar yang tiba-tiba berubah jadi tempat sujud. Sajadah dibentangkan di atas aspal yang tadi malam masih dihantam ban motor dan hujan gerimis.
Takbir berkumandang. Dari speaker masjid, dari siaran YouTube, dari mobil-mobil yang berhenti di pinggir jalan. Suara digital bercampur suara manusia, gema yang samar antara sakral dan bising. Seseorang mengangkat ponsel, merekam saf yang panjang, menyisipkan caption: Eid vibes, Alhamdulillah.
Allahu Akbar.
Dunia berhenti sejenak. Gerakan yang seragam, ritme yang diulang-ulang, tubuh-tubuh yang menekuk dalam kepasrahan yang hampir mekanis. Dalam hati, ada yang benar-benar khusyuk, ada yang hanya ikut arus, ada yang berpikir tentang baju baru, ada yang membayangkan THR yang telah habis sebelum sempat dipakai.
Allahu Akbar.
Di sudut lapangan, seorang anak kecil menarik gamis ibunya. Tangannya masih lekat dengan remah kue kering, matanya mencari es krim yang dijanjikan setelah ini. Seorang lelaki tua menunduk, air matanya jatuh tanpa suara. Entah rindu, entah syukur, entah lelah.
Ketika salam terakhir diucapkan, ponsel-ponsel kembali diangkat. Foto-foto diambil, video diputar ulang, filter ditambahkan. Hari raya telah tiba. Dunia kembali berputar.
Di langit, matahari naik tanpa peduli. Di layar, notifikasi ucapan selamat terus berdenting, memenuhi ruang yang tak lagi sunyi.