Hikam no. 2

Terjaring dalam Takdir

Ada jiwa yang rindu bebas, ingin melepas dunia dan segala bebannya. Ia melihat para zahid, para ahli ibadah yang sunyi, dan hatinya berbisik, "Mereka lebih dekat kepada Tuhan, aku pun ingin seperti mereka." Tapi ia lupa, tangannya masih menggenggam tanggung jawab, kakinya masih berpijak di ladang kerja yang Allah titipkan.

Ada pula jiwa yang telah Allah lapangkan dari hiruk-pikuk dunia. Ia telah diberi ruang untuk menatap langit, menyelami ilmu, meresapi makna. Tapi matanya beralih, melihat gemerlap dunia yang memanggil. "Mungkin aku perlu sedikit saja merasakannya," pikirnya, tanpa sadar ia melangkah menuruni tangga cahaya.

Takdir telah menjalin jalannya sendiri. Yang dalam sebab, jangan mengira bebas adalah jalannya. Yang dalam kebebasan, jangan mengira sebab akan memberi arti lebih. Sebab sejati bukan di tangan manusia, tapi dalam kehendak yang telah digariskan.

Maka terimalah, di mana pun Allah menempatkanmu. Sebab takdir bukan belenggu, tapi jalan pulang yang telah digoreskan-Nya sejak mula.

Popular posts from this blog

Makna, Tafsir, dan Relevansi Surat Adh-Dhuha

Sunyi Sang Pengembara: Menuju Pelukan Ilahi

Senja di Perjalanan Pulang