Berat Yang Tak Terucap
Kadang, di sela percakapan yang biasa, tersembunyi kebenaran yang pelan-pelan menekan dada.
Katanya, rasa tak tega itu ada. Menghantui langkah-langkah yang harus tetap diambil.
Namun, hidup tak selalu memberi ruang untuk kelembutan hati. Ada perut yang harus diisi, ada anak-anak yang menunggu kabar baik dari rumah.
Dan meski nurani berbisik lirih, memohon agar keputusan ditunda,
pikiran harus tetap jernih, tegak berdiri di tengah arus kenyataan.
Karena bukan hanya tentang kita—tapi tentang mereka yang diam-diam percaya,
bahwa setiap hari kita pulang membawa harapan.
Jadi, walau langkah ini berat,
dan malam-malam terasa panjang karena rasa bersalah yang diam-diam mengetuk,
kita tahu: ini bukan soal tega atau tidak,
tapi soal bertahan di tengah dunia yang jarang sekali adil.